ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

PENGAJIAN K.H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA

Kegiatan pengajian rutin santri-santri Pondok Pesantren PPAI Nurul Hikmah bersama masyarakat

Santriwan Santriwati TPQ Nurul Hikmah

Penampilan santriwan santriwati Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Nurul Hikmah di Haul Umum KH Moch. Said dan Hari Jadi PPAI Nurul Hikmah

Pengasuh bersama Romo Kyai Harun

Pengajian Haul Umum K. H. Moch Said dan Haflah Akhirus Sanah PPAI Nurul Hikmah Malang

Tokoh Masyarakat Desa Kebonagung

Haul Umum K. H. Moch Said dan Haflah Akhirus Sanah PPAI Nurul Hikmah Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

K. H. MOH. SAID DAN NYAI FATIMAH SAID

Pendiri Pondok Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Kab. Malang

Santri-santri PPAI Nurul Hikmah

Haul dan Imtihan Pondok Pesantren PPAI Nurul Hikmah Malang

HAUL UMUM

Haul Umum dan K. H. Moh. Said dan Imtihan PPAI Nurul Hikmah Malang

LOMBA SHOLAWAT NABI.

Haul Umum K. H. Moh. Said dan Imtihan PPAI Nurul Hikmah Malang

SAHABAT SAHABAT PPAI NURUL HIKMAH

Keluarga Santri PPAI Nurul Himah Malang Tahun 2000 ke ke atas

SAHABAT SAHABAT PPAI NURUL HIKMAH

Keluarga Santri PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang tahun 2000 ke bawah

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

ROMO K. H. Drs. MAHMUD ZUBAIDI, MA.

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren PPAI NURUL HIKMAH Kebonagung Pakisaji Kab. Malang

Senin, 29 Oktober 2012

KATA-KATA MUTIARA PARA SUFI PENCINTA

"Allah swt telah menyediakan rezeki bagi hamba-hamba-Nya. Siapapun yang tidak
mengetahui hikmah mengenai rezeki hariannya yang Allah berikan kepadanya, dia
akan dianggap lalai."

"Cahaya spiritual yang Allah swt berikan kepadamu di jalan ini adalah Penunjuk
Jalan yang menerangi Jalan menuju Kehadirat Ilahi tanpa rasa takut.�� ��Dalam
thariqat ini, memuliakan sesuatu selain Allah swt adalah kafir."Sufi adalah
orang yang telah meninggalkan dunianya, Hari Akhiratnya, dan Kehadirat Ilahi di
belakang dan mereka yang hidup menyatu dengan-Nya". "Aku tidak ingin dikenal
di dunia ini setelah Aku meninggalkannya, karena Aku tidak mengharapkan diriku
mempunyai suatu eksistensi".

"Kesombongan tidak pernah memasuki hati seseorang tanpa mengakibatkan
penurunan derajat pikirannya setara dengan meningkatnya jumlah kesombongan
dalam hatinya. "Kesulitan mungkin akan menyentuh orang-orang yang beriman,
tetapi kesulitan itu tidak akan mempengaruhi orang yang berdzikir."

"Setiap orang yang berjuang di jalan Allah akan disediakan rezeki baginya. Dan
itulah yang Allah katakan dalam al-Qur'AN. "Setiap kali Zakariyya masuk untuk
menemui Maryam di Mihrab, dia mendapati makanan di sisinya" [3:37].

Minggu, 28 Oktober 2012

IBU NYAI MAHMUD ZUBAIDI TELAH WAFAT

Ikatan Keluarga Santri (IKS) PPAI NURUL HIKMAH KEBONAGUNG PAKISAJI MALANG TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA IBU NYAI MAHMUD ZUBAIDI pada hari senin tanggal 22 Oktober 2012, Semoga Almarhumah Senantiasa mendapat ampunan atas segala dosanya dan diangkat derajatnya hingga akhir zaman serta bagi keluarga dalem semua semoga diberikan ketabahan dan kekuatan. aminn..

Ketua IKS PPAI Nurul Hikmah




SUPARMAN, S.Pd.I

Harus Dibedakan Antara Jihad dan Teror

Berikut petikan wawancara wartawan Malang Post Bagus Ary Wicaksono tentang perbedaan Antara Jihad dan Teror;;;
Masih teringat dipikiran kita terjadinya aksi pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta Jumat (17/7). Aksi terorisme mengatasnamakan jihad itu kembali menelan korban tewas dan luka-luka. Sementara di Malang raya, Densus 88 diam-diam sudah menyisir kediaman orang-orang yang diduga terlibat terorisme. Lantas seperti apa, tanggapan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Drs. KH. Mahmud Zubaidi, MA.

Bagaimana pandangan Pak Kiai mengenai terorisme?
Terorisme dari segi agama dan perbuatannya, jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam. Terorisme tidak bisa dikatakan sebagai jihad, karena terorisme perbuatan yang merusak di bumi. Coba tinjau dari kalimat berikut, “Wala tufsidu fil ardi, innallaha la yu hibbul mufsidin”. Artinya jangan sekali-kali kamu merusak di bumi, karena Allah sungguh-sungguh tidak menyukai orang-orang yang merusak.

Seperti apa para pelaku terorisme di Indonesia menurut Pak Kiai?
Mereka (pelaku) salah kaprah dalam memahami arti jihad fi Sabilillah.

Lantas apa yang dilakukan MUI Kabupaten Malang untuk memfilter aksi terorisme?
MUI Kabupaten Malang telah memberi imbauan lewat dakwah, supaya masyarakat bisa membedakan antara jihad dan teror. Jihad itu berjuang untuk menegakkan agama Allah, bukan dalam bentuk perang. Mencari nafkah untuk istri juga disebut jihad, mengajar ngaji juga bentuk dari jihad. MUI Kabupaten mengikuti sikap MUI pusat, bahwa terorisme bukan bagian dari jihad dan terorisme dilarang oleh Islam.

Apa di Kabupaten ada wilayah khusus yang bisa didiami pelaku teror?
Tidak ada, MUI mempunyai struktur di tiap kecamatan yang juga punya akses hingga ke desa-desa. MUI tentu saja mengawasi mereka (pelaku teroris), itu kita lakukan dengan pola kemitraan. Mitra kita adalah ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah dan pimpinan Pondok Pesantren.

Bagaimana peran aparat?
Aparat sudah berjalan bagus, karena bersama ulama juga bahu membahu memerangi terorisme. Di kabupaten Malang ada juga Dai Kamtibmas, hal itu membuat kondisi kabupaten Malang kondusif. Tak hanya dengan sesama ulama, kemitraan seperti ini juga dilakukan bersama anggota masyarakat. Karakter masyarakat Kabupaten yang berbeda dengan pola kota yang cuek juga turut membantu para aparat.

Ada kesan Pondok Pesantren menjadi markas teroris, seperti kesan pada Ponpes Ngruki Solo, bagaimana pendapat Pak Kiai?
Pondok pesantren tidak bisa dinilai sebagai sarang teroris, harus dipilah jangan digebyah uyah (dipukul rata, red.). Kalau Ponpes Ngruki diisukan seperti itu, maka pemerintah harus turun ke bawah. Memakai pendekatan tertentu, ini supaya sejalan dengan pemikiran umat Islam. Penilaian terhadap Pondok pesantren harus obyektif.

Siapa dibalik aksi teror selama ini, dan apa pesan MUI kepada masyarakat?
Aksi teroris itu dilakukan oleh orang yang tidak memahami ajaran Islam, sehingga pemahamannya picik. Pesan MUI, waspadai perilaku orang-orang yang mengisukan terorisme, terlebih jika orang itu mengajak kita. Karena itu, kami minta masyarakat selalu berhubungan dengan ulama, aparat maupun pemerintah jika ada orang-orang yang merugikan di sekitar lingkungan mereka. Masyarakat harus lebih peduli terhadap lingkungan masing-masing.

Kiai Yang Amat Peduli Pendidikan
Kiprah KH Mahmud Zubaidi dalam dunia pendidikan di Kabupaten Malang tak bisa diragukan lagi. Suami Hj. Bidayah itu sudah terjun ke dunia pendidikan sejak tahun 1963. Hingga saat ini, sang kiai masih intens dan memiliki begitu banyak mimpi untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Malang.
“Saya pernah menjadi guru agama, penilik sekolah, kepala KUA hingga anggota DPRD. Namun hingga saat ini, dunia pendidikan yang masih terus saya tekuni,” ungkapnya.
Mantan anggota DPRD Kabupaten Malang periode 1992-1997 itu menganggap pendidikan sebagai cikal bakal kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, akan tercetak kader-kader bangsa dan kader umat yang berkualitas. Atas dasar itulah, Kiai Mahmud tak akan berhenti berkecimpung dalam dunia pendidikan sampai tak mampu mengajar. “Saat ini sedang merintis Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat di Kepanjen naik status,” tuturnya.
Selaku Ketua STIT Raden Rahmat, saat ini bapak dua putri itu, tengah mengupayakan menaikkan grade STIT. Pihaknya tengah mengurus izin ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam di Jakarta.
Bila berhasil, STIT bakal naik status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam. “Nanti akan bertambah dua mata kuliah, yakni Ekonomi Islam dan Psikologi Islam. Ke depan juga harus menjadi universitas, kita harus bermimpi setinggi langit,” imbuh kakek yang memiliki dua cucu itu.
Ayahanda Hj. Maria Ulfa dan Kholidah Masruroh itu bermimpi membangun pusat pendidikan di Kota Kepanjen. Sehingga pada akhirnya bermanfaat kepada masyarakat luas, terutama warga Kabupaten Malang yang berpenduduk 2,4 juta jiwa.

Rabu, 24 Oktober 2012

K. H. MOH. SAID KETAPANG



K. H. Moh. Said Lahir di Tongan, Malang pada tahun 1901, Wafat Pada 1964 Dimakamkan dilingkungan Pesantren PPAI Kepanjen.Pendidikan NIS, ELS, nyantri di Kiai Mukti, Kasin,  Ponpes Canga'an Bangil, Ponpes Salafiyah Siwalan Panji, Sidoarjo.
Perjuangan/Pengabdian : Pendiri Ponpes Sono Tengah, Pakisaji, Pendiri Pesantren Karangsari Bantur, Pendiri Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen, Penggerak tentara Hisbullah, Rois Syuriah NU Cabang Malang, menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow, Rusia, dan Karachi mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.  
Kiai Low Profile, yang Jadi Delegasi Ulama ke Rusia
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. Al-Jaatsiyah:18)
Ayat ke-18 dalam Al Qur'an surat Al-Jaatsiyah itulah, yang selalu ditanamkan KH Moh. Said kepada santrinya. Harapannya, agar santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Ketapang, Kepanjen, yang diasuhnya tidak model-model. "Kalau memang hanya bisa membaca Al Fatihah, ya ajarkan Al Fatihah itu," ujarnya kala itu.
Prinsip kiai kelahiran Tongan, Kota Malang pada tahun 1901 ini, sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau mengkader santrinya menjadi pemimpin. Karenanya, tak heran jika kemudian Kiai Said, putra dari H Moh. Anwar dan Ny Lis ini berhasil mengkader santrinya menjadi kiai, ustadz, dan tokoh masyarakat. Seperti KH Abdul Hanan, KH Alwi Murtadho, Pengasuh PPAI Al Ihsan, Blambangan, Bululawang, KH Abdul Basyir, KH. Drs Mahmud Zubaidi, Ketua MUI Kabupaten Malang, yang juga Pengurus NU Cabang Kabupaten Malang, Ustadz H Ismail Qodly, guru agama di SLTP Shalahuddin, Gus Mad Suyuti Dahlan, Pengasuh Ponpes Nurul Ulum, Kacuk, Sukun, KH Ahmad Su'aidi, yang kini menjadi Pengasuh PPAI Ketapang, menggantikan beliau, dan puluhan kiai lainnya, yang tersebar di Malang dan sekitarnya.
Pada masa penjajahan Belanda, Kiai Said termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan NIS tahun 1911, dan 5 tahun kemudian menamatkan ELS tahun 1916. Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember  selama 9 tahun, mulai tahun 1916 sampai 1925.
Sejak masa muda, beliau memang dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras, dan tekun belajar. Selain membantu orang tuanya, juga berdagang, serta terkadang bertani.
Beliau menikah pada tahun 1925, dengan Siti Fatimah, seorang wanita dari Kidul Pasar Malang. Waktu itu, beliau masih berstatus sebagai pegawai di Kantor Gubernur di Surabaya tahun 1925 – 1927. Dalam pernikahan tersebut, Kiai Said tidak sampai dikarunia putra.
Secara khusus, awalnya Kiai Said hanya nyantri di beberapa kiai di Malang, seperti ngaji pada Kiai Mukti, Kasin, dan beberapa kiai lainnya. Selain itu,  juga pernah nyantri ke Canga'an Bangil. Kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji Sidoarjo pada tahun 1926 – 1931.
Bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda, ternyata tidak memuaskan hati beliau, hingga dia mengundurkan diri. Karenanya, setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren beliau mendirikan dan mengasuh Ponpes Sono Tengah Pakisaji Malang pada tahun 1931 sampai 1947. Pada tahun 1948, beliau mendirikan Pesantren Karangsari di Bantur. Setelah itu, sekitar tahun 1949 mendirikan Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen.
Di masa pendudukan penjajah Belanda, Kiai Said, turut berjuang bersama masyarakat untuk mengusir penjajah. Bahkan beliau termasuk tokoh yang menggerakkan tentara Hisbullah pada tahun 1945 –1948.
Dikalangan santri, dan masyarakat, beliau dikenal sebagai ulama yang bijaksana, serta dekat umaro' dan organisasi yang allamah waro’ dan sufi. Selain itu, juga aktif di organisasi NU, dan sempat menjadi Rois Syuriah NU Cabang Malang pada tahun 1950 –1965. Bahkan, pernah ditunjuk menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow, Rusia, dan Karachi mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.
Menurut Gus Mad Suyuti Dahlan, Kiai Said itu sosok sufi yang berpendirian teguh, suka menyendiri, dan menjauhi keramaian. Meski beliau lebih menekankan pada syariat (fiqih), tapi juga mengamalkan Thoriqoh Kholwatiyah dengan kitab susunannya Khulasoh Dzikril Ammah wah Khossoh, yang didirikan Syeh Kholwati. "Beliau itu hampir 27 tahun tidak pernah telat melaksanakan shalat berjama'ah. Dan pelajaran itu, selalu ditekankan pada santri-santrinya," ujar Gus Mad Suyuti Dahlan.
Demikian juga dalam bidang pendidikan, beliau sangat memperhatikan para generasi muda. Para santrinya diarahkan untuk menjadi penganjur agama Islam atau da’i, serta menjadi kader-kader dakwah yang memperjuangkan agama Islam ala ahlussunnah wal jama’ah, serta menyebarluaskan ajaran ponpes yang sehaluan dengan PPAI Ketapang.  
Kiai Said dipanggil Allah SWT pada tahun 1964 dalam usia 63 tahun, dan dimakamkan di sekitar pesantrennya. Pernah beliau sewaktu sakit dikunjungi Habib Abdul Qodir Bil Faqih, Pengasuh Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyah yang kebetulan diantarkan Gus Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qodir sempat menawarkan obat dari Jerman, yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kiai Said. Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran tersebut tidak diterima.
Lantas Kiai Said menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi hatinya itu pecah jadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya, "Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah."
"Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Pak Kiai. Dzikir itu saja diteruskan," tutur Gus Mad Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qodir Bil Faqih kepada Kiai Said waktu itu

Isilah Form berikut dengan login email : iks_ppainurulhikmah@yahoo.com pasword : iks