Minggu, 28 Oktober 2012

Harus Dibedakan Antara Jihad dan Teror

Berikut petikan wawancara wartawan Malang Post Bagus Ary Wicaksono tentang perbedaan Antara Jihad dan Teror;;;
Masih teringat dipikiran kita terjadinya aksi pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta Jumat (17/7). Aksi terorisme mengatasnamakan jihad itu kembali menelan korban tewas dan luka-luka. Sementara di Malang raya, Densus 88 diam-diam sudah menyisir kediaman orang-orang yang diduga terlibat terorisme. Lantas seperti apa, tanggapan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Drs. KH. Mahmud Zubaidi, MA.

Bagaimana pandangan Pak Kiai mengenai terorisme?
Terorisme dari segi agama dan perbuatannya, jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam. Terorisme tidak bisa dikatakan sebagai jihad, karena terorisme perbuatan yang merusak di bumi. Coba tinjau dari kalimat berikut, “Wala tufsidu fil ardi, innallaha la yu hibbul mufsidin”. Artinya jangan sekali-kali kamu merusak di bumi, karena Allah sungguh-sungguh tidak menyukai orang-orang yang merusak.

Seperti apa para pelaku terorisme di Indonesia menurut Pak Kiai?
Mereka (pelaku) salah kaprah dalam memahami arti jihad fi Sabilillah.

Lantas apa yang dilakukan MUI Kabupaten Malang untuk memfilter aksi terorisme?
MUI Kabupaten Malang telah memberi imbauan lewat dakwah, supaya masyarakat bisa membedakan antara jihad dan teror. Jihad itu berjuang untuk menegakkan agama Allah, bukan dalam bentuk perang. Mencari nafkah untuk istri juga disebut jihad, mengajar ngaji juga bentuk dari jihad. MUI Kabupaten mengikuti sikap MUI pusat, bahwa terorisme bukan bagian dari jihad dan terorisme dilarang oleh Islam.

Apa di Kabupaten ada wilayah khusus yang bisa didiami pelaku teror?
Tidak ada, MUI mempunyai struktur di tiap kecamatan yang juga punya akses hingga ke desa-desa. MUI tentu saja mengawasi mereka (pelaku teroris), itu kita lakukan dengan pola kemitraan. Mitra kita adalah ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah dan pimpinan Pondok Pesantren.

Bagaimana peran aparat?
Aparat sudah berjalan bagus, karena bersama ulama juga bahu membahu memerangi terorisme. Di kabupaten Malang ada juga Dai Kamtibmas, hal itu membuat kondisi kabupaten Malang kondusif. Tak hanya dengan sesama ulama, kemitraan seperti ini juga dilakukan bersama anggota masyarakat. Karakter masyarakat Kabupaten yang berbeda dengan pola kota yang cuek juga turut membantu para aparat.

Ada kesan Pondok Pesantren menjadi markas teroris, seperti kesan pada Ponpes Ngruki Solo, bagaimana pendapat Pak Kiai?
Pondok pesantren tidak bisa dinilai sebagai sarang teroris, harus dipilah jangan digebyah uyah (dipukul rata, red.). Kalau Ponpes Ngruki diisukan seperti itu, maka pemerintah harus turun ke bawah. Memakai pendekatan tertentu, ini supaya sejalan dengan pemikiran umat Islam. Penilaian terhadap Pondok pesantren harus obyektif.

Siapa dibalik aksi teror selama ini, dan apa pesan MUI kepada masyarakat?
Aksi teroris itu dilakukan oleh orang yang tidak memahami ajaran Islam, sehingga pemahamannya picik. Pesan MUI, waspadai perilaku orang-orang yang mengisukan terorisme, terlebih jika orang itu mengajak kita. Karena itu, kami minta masyarakat selalu berhubungan dengan ulama, aparat maupun pemerintah jika ada orang-orang yang merugikan di sekitar lingkungan mereka. Masyarakat harus lebih peduli terhadap lingkungan masing-masing.

Kiai Yang Amat Peduli Pendidikan
Kiprah KH Mahmud Zubaidi dalam dunia pendidikan di Kabupaten Malang tak bisa diragukan lagi. Suami Hj. Bidayah itu sudah terjun ke dunia pendidikan sejak tahun 1963. Hingga saat ini, sang kiai masih intens dan memiliki begitu banyak mimpi untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Malang.
“Saya pernah menjadi guru agama, penilik sekolah, kepala KUA hingga anggota DPRD. Namun hingga saat ini, dunia pendidikan yang masih terus saya tekuni,” ungkapnya.
Mantan anggota DPRD Kabupaten Malang periode 1992-1997 itu menganggap pendidikan sebagai cikal bakal kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, akan tercetak kader-kader bangsa dan kader umat yang berkualitas. Atas dasar itulah, Kiai Mahmud tak akan berhenti berkecimpung dalam dunia pendidikan sampai tak mampu mengajar. “Saat ini sedang merintis Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Rahmat di Kepanjen naik status,” tuturnya.
Selaku Ketua STIT Raden Rahmat, saat ini bapak dua putri itu, tengah mengupayakan menaikkan grade STIT. Pihaknya tengah mengurus izin ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam di Jakarta.
Bila berhasil, STIT bakal naik status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam. “Nanti akan bertambah dua mata kuliah, yakni Ekonomi Islam dan Psikologi Islam. Ke depan juga harus menjadi universitas, kita harus bermimpi setinggi langit,” imbuh kakek yang memiliki dua cucu itu.
Ayahanda Hj. Maria Ulfa dan Kholidah Masruroh itu bermimpi membangun pusat pendidikan di Kota Kepanjen. Sehingga pada akhirnya bermanfaat kepada masyarakat luas, terutama warga Kabupaten Malang yang berpenduduk 2,4 juta jiwa.

0 komentar:

Posting Komentar

Isilah Form berikut dengan login email : iks_ppainurulhikmah@yahoo.com pasword : iks